INFO GLOBAL INDONESIA
Buleleng, infoglobalindonesia.com //– Pernyataan Gubernur Bali, Wayan Koster, yang mengajak masyarakat melakukan transformasi pola konsumsi dengan mengurangi makan nasi atau beras dan beralih ke pangan alternatif seperti jagung dan ketela pohon, tengah menjadi viral dan menuai beragam reaksi di media sosial.
Dalam keterangannya, Wayan Koster menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian pangan berbasis potensi lokal. Ia juga mengaku mendapatkan arahan dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, khususnya terkait kebijakan yang menyentuh kepentingan kerakyatan.
“Ini bagian dari transformasi pola konsumsi masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada beras. Kita punya banyak sumber pangan lokal seperti jagung dan ketela yang juga bernilai gizi,” ujarnya.
Namun, pernyataan tersebut langsung memicu respons luas dari warganet. Di berbagai platform media sosial, banyak netizen yang menilai kebijakan tersebut kurang tepat jika tidak diiringi kesiapan produksi, distribusi, serta perubahan kebiasaan masyarakat.
Sejumlah komentar menyebutkan bahwa nasi telah menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk di Bali, sehingga perubahan pola konsumsi dinilai tidak bisa dilakukan secara instan. Di sisi lain, ada pula yang mendukung gagasan tersebut sebagai langkah strategis untuk diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Menanggapi polemik tersebut, Pengamat Sosial, Dr. Drs I Gede Made Metra,MSi menilai bahwa ide diversifikasi pangan pada dasarnya merupakan langkah yang positif, namun perlu pendekatan yang lebih komprehensif.
“Secara konsep, pengurangan ketergantungan terhadap beras memang penting untuk ketahanan pangan jangka panjang. Namun, pemerintah harus memastikan kesiapan dari sisi produksi, distribusi, hingga edukasi masyarakat. Perubahan budaya makan tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba,” jelasnya.
Sementara itu, Pengamat Sosial yang juga Rektor Universitas Panji Sakti Singaraja, Dr. Nyoman Gede Remaja,SH.MH menyatakan ,pada prinsipnya mendukung gagasan tersebut. Menurutnya, secara sosial dan historis, masyarakat Indonesia sejak dahulu telah mengenal pola konsumsi pangan yang lebih beragam dan sehat.
“Secara prinsip saya setuju, karena nenek moyang kita sejak dulu sudah mengajarkan pola makan sehat dengan memanfaatkan sumber pangan lokal seperti jagung dan ketela. Bahkan dari sisi ekonomi, ini bisa lebih terjangkau bagi masyarakat,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menilai viralnya isu ini tidak lepas dari ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini.
“Kenapa ini menjadi viral, karena kita belum siap menghadapi perubahan. Perkembangan teknologi membuat pola hidup dan pola konsumsi masyarakat berubah cepat, sementara adaptasi terhadap kembali ke pangan lokal belum sepenuhnya siap,” tambahnya.
Hingga kini, topik tersebut masih menjadi perbincangan hangat dan terus berkembang di media sosial, mencerminkan tingginya perhatian publik terhadap isu ketahanan pangan dan kebijakan pemerintah daerah.(Roy)
Reduktur: IGI COM






