Denpasar, Bali ,infoglobalindonesia.com//– Gelombang penolakan terhadap rencana kehadiran Ormas Madas Nusantara di Bali terus bermunculan dari berbagai elemen masyarakat. Kali ini, sikap tegas disampaikan oleh Yayasan Ksatria Keris Bali yang menyatakan tidak mendukung keberadaan maupun aktivitas organisasi tersebut di Pulau Dewata.

Ketua Umum Yayasan Ksatria Keris Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya, yang akrab disapa Jro Bima, menegaskan bahwa sikap penolakan tersebut dilandasi oleh keinginan untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan keharmonisan masyarakat Bali yang selama ini telah terbangun dengan baik melalui sistem adat, budaya, dan kearifan lokal yang kuat.
Menurut Jro Bima, Bali telah memiliki berbagai instrumen sosial kemasyarakatan yang selama ini mampu menjaga ketertiban dan kerukunan antarwarga. Karena itu, kehadiran organisasi kemasyarakatan baru yang berpotensi menimbulkan perbedaan kepentingan dikhawatirkan dapat memicu gesekan sosial di kemudian hari.

“Kami tidak ingin terjadi konflik atau gesekan yang dapat mengganggu kerukunan yang selama ini terjaga di Bali. Bali memiliki sistem adat dan budaya yang kuat dalam menjaga keamanan dan keharmonisan masyarakat,” tegas Jro Bima. Meski demikian, Jro Bima menegaskan bahwa penolakan tersebut sama sekali tidak ditujukan kepada masyarakat Madura yang selama ini hidup, bekerja, dan berkontribusi di Bali. Ia justru mengajak seluruh warga Madura untuk terus menjalin persaudaraan, menjaga hubungan harmonis, serta hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat Bali.
Menurutnya, persatuan dan kebersamaan antarwarga jauh lebih penting daripada membawa identitas organisasi tertentu yang berpotensi menimbulkan perbedaan atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Kita tetap bersatu sebagai sesama anak bangsa. Kami menghormati seluruh warga Madura yang tinggal di Bali. Namun kami berharap tidak melakukan aktivitas atas nama Ormas Madas di Tanah Bali. Jika hal ini dibiarkan, dikhawatirkan akan memunculkan organisasi-organisasi lain yang pada akhirnya dapat menimbulkan gesekan dan masalah sosial di kemudian hari,” ujarnya. Jro Bima juga mengingatkan bahwa Bali merupakan daerah yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Karena itu, segala bentuk potensi konflik yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan citra daerah harus dihindari bersama.

“Jika terjadi gesekan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi juga dapat merugikan Bali secara keseluruhan, terutama sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Jro Bima mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh suasana, termasuk saling memprovokasi di media sosial. Ia berharap perbedaan pandangan terkait keberadaan Ormas Madas Nusantara dapat disikapi dengan bijaksana dan mengedepankan dialog serta rasa saling menghormati.

“Kami berharap teman-teman warga Madura tidak terpancing atau melakukan provokasi, termasuk dengan wacana melaporkan masyarakat yang menyampaikan aspirasi penolakan melalui media sosial. Sikap seperti itu justru dapat menimbulkan persepsi bahwa Ormas Madas ingin menunjukkan taringnya di Bali.

Padahal yang kita butuhkan saat ini adalah suasana yang sejuk, damai, dan penuh persaudaraan,” ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Jro Bima mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan menghormati adat, budaya, dan nilai-nilai yang berlaku di daerah tempat tinggal masing-masing.

“Mari kita tetap bersatu sebagai bangsa Indonesia. Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Hormati adat istiadat, budaya, dan kearifan lokal yang ada. Dengan semangat persaudaraan, kita dapat mempertebal persatuan dan kesatuan demi Indonesia yang damai dan harmonis,” pungkas Jro Bima.

Pernyataan Yayasan Ksatria Keris Bali ini menambah daftar berbagai elemen masyarakat dan tokoh yang sebelumnya telah menyampaikan pandangan terkait polemik keberadaan Ormas Madas Nusantara di Bali. Hingga saat ini, isu tersebut masih menjadi perhatian publik dan terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat maupun di berbagai platform media sosial. (Roy)

Red: IGI COM