Yayasan Kesatria Keris Bali Ikut Tanam Mangrove, Perkuat Gerakan Konservasi Lingkungan

JEMBRANA,infoglobalindonesia.com// – Upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memulihkan ekosistem pesisir di kawasan Bali Barat memasuki babak baru.

Ribuan bibit mangrove mulai ditanam secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung (WLBA), Taman Nasional Bali Barat (TNBB), serta dukungan yayasan dan komunitas konservasi, Senin (10/8/2026).

Kegiatan penanaman perdana yang dipusatkan di wilayah Desa Sumber Klampok, Kecamatan Gerokgak, tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Konservasi Alam Nasional.

Ratusan peserta dari berbagai unsur turut hadir, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, kelompok masyarakat, pelaku pariwisata, yayasan, komunitas lingkungan, hingga pelajar.

Program ini tidak sekadar menanam pohon, tetapi menjadi langkah awal dari sebuah agenda besar pemulihan ekosistem secara berkelanjutan.
Plt. Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat, Adang Bayu Pamungkas, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa ekosistem mangrove memiliki peran strategis bagi keberlangsungan lingkungan pesisir.

Menurutnya, mangrove berfungsi melindungi wilayah pesisir dari abrasi, meredam gelombang tsunami, sekaligus menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan dan biota laut. Kawasan mangrove juga menjadi tempat burung bersarang serta berperan dalam menjaga kualitas perairan.
“Mangrove juga memiliki fungsi menyerap karbon dioksida, membantu menghadapi perubahan iklim, menyaring polutan, mengurangi dampak banjir rob dan intrusi air laut, serta mendukung ketahanan pangan dan produktivitas perikanan,” jelasnya.

Keberadaan ekosistem pesisir, lanjutnya, memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan berbagai spesies laut tropis. Kawasan mangrove menjadi salah satu habitat penting sebagai tempat pemijahan, pembesaran, maupun mencari makan bagi biota laut.
Karena itu, rehabilitasi mangrove dinilai bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut ekonomi masyarakat pesisir dan keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.

Dalam kegiatan tersebut hadir sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat, di antaranya KPH-DLH Buleleng, Camat Gerokgak I Gede Rimbawa Giri, Danramil Gerokgak Kapten Infanteri Made Sudiarcana, jajaran Polsek Gerokgak, Kepala Desa Sumber Klampok sekaligus Ketua Panitia Wayan Sawitra Yasa, Kelompok Sadar Wisata Segara Indah Sumber Klampok, LPD Sumber Klampok, kelompok nelayan Wana Segara dan Bunga Indah, serta berbagai yayasan dan komunitas.

Sejumlah organisasi sosial dan lingkungan yang turut berpartisipasi antara lain Yayasan Mulat Sarira, Batur Kalawasan, Sanggar Bona Alit, komunitas Seke Demen Berbagi, Yayasan Bumi Bali Bagus, Yayasan Kerta Boga Sari, Yayasan Kasih Insan Semesta, Yayasan Inti Alam Bali, Yayasan Kesatria Keris Bali, Yayasan Pancer Langit, Yayasan Rasa Boga Sari, Yayasan Wanara Petak, para guru dan pelajar SMP Negeri Satu Atap 1 serta SMA Negeri 1 Gerokgak, dan Stikes.

Momentum tersebut juga diisi dengan pemberian penghargaan oleh TNBB kepada SDN Sumber Klampok atas kontribusinya dalam upaya penyelamatan Jalak Bali.

Target Rehabilitasi 19 Hektare
Direktur Utama PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung, R.A. Ambarwati Kencono Wungu, menegaskan bahwa penanaman mangrove tersebut merupakan bagian dari program konservasi jangka panjang yang tidak berhenti pada kegiatan penanaman.
“Program konservasi berkelanjutan ini akan dilanjutkan dengan pembangunan instalasi air bersih dari kawasan TNBB sampai Pulau Menjangan, pembangunan dermaga penyeberangan, sanctuary banteng, perlindungan flora dan fauna, pengolahan dan pengelolaan sampah, penanaman terumbu karang, serta pemulihan ekosistem taman nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, khusus program rehabilitasi mangrove, kawasan yang menjadi sasaran mencapai 19 hektare dan akan dilaksanakan secara berkesinambungan.

Menariknya, program tersebut juga dirancang memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.

Kelompok masyarakat akan dilibatkan dalam proses penanaman, pemeliharaan hingga evaluasi pertumbuhan mangrove.
“Biaya tanam, perawatan dan evaluasi tahunan akan dibiayai oleh PT WLBA. Kami juga akan memberikan penghargaan berupa hadiah uang tunai dan sertifikat kepada kelompok tanam yang menunjukkan pertumbuhan dan perawatan mangrove terbaik pada tahun pertama, kedua dan ketiga,” jelas Ambarwati.

Konsep tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak hanya menjadi pelaksana penanaman, tetapi sekaligus menjadi penjaga keberlanjutan ekosistem.
Dukungan Konservasi dari Eropa
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari jejaring konservasi internasional. Mr. Alex Lemancel, tamu undangan asal Perancis yang memiliki hubungan dengan Prince Albert II of Monaco Foundation serta sejumlah yayasan di Eropa, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah konservasi yang dilakukan di Bali Barat.
“Hari ini kita bukan hanya menanam mangrove, tetapi kita menanam harapan. Kita menjaga pesisir, menjaga lingkungan hidup dan menjaga masa depan generasi yang akan datang,” katanya.

Ia menyampaikan harapan agar dukungan dari Monaco dan yayasan-yayasan di Eropa dapat berkembang menjadi kolaborasi nyata dan berkelanjutan bersama Yayasan Royal Nusantara Agung, PT Wijaya Laksmi Bhuana Agung dan Taman Nasional Bali Barat.

Menurutnya, mangrove memiliki posisi penting dalam menghadapi perubahan iklim karena merupakan salah satu ekosistem blue carbon yang mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
“Karena itu, perlindungan dan restorasi mangrove menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus menjaga keanekaragaman hayati,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sebuah program rehabilitasi mangrove bukan semata-mata dilihat dari jumlah bibit yang ditanam.
“Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari tingkat keberhasilan tumbuhnya mangrove, pulihnya ekosistem, meningkatnya kesejahteraan masyarakat pesisir, serta terjaganya lingkungan hidup bagi generasi saat ini dan mendatang,” pungkasnya.
Kolaborasi tersebut menjadi pesan penting bahwa konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan dan jejaring internasional perlu berjalan bersama agar upaya pemulihan lingkungan tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi benar-benar menjadi gerakan berkelanjutan.

Dari pesisir Bali Barat, ribuan bibit mangrove hari itu ditanam. Namun yang sesungguhnya sedang ditanam adalah harapan—agar alam tetap lestari, masyarakat semakin sejahtera, dan generasi mendatang masih memiliki pesisir yang hijau untuk diwariskan.(*roy)

Red: IGI COM