
BULELENG, infoglobalindonesia.com // — Suka Duka Gema Denbukit mulai memantapkan langkah. Sebelum menjalankan berbagai program kerja, organisasi sosial kemasyarakatan yang membawa semangat kebersamaan warga Denbukit Bali Utara ini terlebih dahulu memprioritaskan penguatan struktur kepengurusan dan konsolidasi anggota.
Hal tersebut mengemuka dalam rapat para pendiri Suka Duka Gema Denbukit yang berlangsung Selasa (16/9/2026), di kediaman salah satu pengurus sekaligus pengusaha anggur, Kadek Suardipa, di Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng.
Ketua Suka Duka Gema Denbukit, Made Dana, tokoh masyarakat Desa Sidetapa, mengatakan Gema Denbukit dibentuk dari sebuah keinginan bersama untuk ikut berbuat dan memberikan manfaat bagi tanah kelahiran, Buleleng.
Menurutnya, Gema Denbukit tidak sekadar menjadi wadah suka duka bagi anggotanya, tetapi juga memiliki visi sosial yang diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Buleleng.
“Gema Denbukit lahir dari keinginan bersama untuk berbuat bagi tanah kelahiran Buleleng. Karena itu, visi dan misi kami tidak hanya ke dalam kelompok suka duka, tetapi juga ke luar, untuk masyarakat Buleleng,” ujar Made Dana.
Ia menjelaskan, program internal nantinya akan diarahkan pada penguatan ekonomi anggota, khususnya membantu pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dukungan tersebut dapat mencakup pengembangan usaha hingga pemasaran, sehingga usaha yang dimiliki anggota dapat tumbuh dan berkembang lebih maju.
Sementara untuk kegiatan eksternal, Gema Denbukit akan fokus pada kegiatan sosial kemasyarakatan, termasuk ikut menjaga adat, budaya dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali Utara.
“Ini merupakan bentuk keinginan kami untuk berbuat bagi Buleleng sebagai warih putra Buleleng,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, para pendiri yang hadir, di antaranya Kadek Sukrata bersama istri, Nyoman Suberata, Kadek Suardipa, dan Made Roy Astika, sepakat bahwa penguatan organisasi harus menjadi fondasi awal sebelum program kerja dijalankan.
Kadek Sukrata menilai, kepengurusan yang solid, kuat dan memiliki loyalitas menjadi salah satu kunci agar organisasi dapat berjalan secara konsisten.
“Saya menyarankan agar dibentuk pengurus yang kuat dan loyal, sehingga Gema Denbukit bisa berjalan sesuai dengan rencana,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Kadek Suardipa. Ia berharap keberadaan Gema Denbukit nantinya benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Buleleng.
Menurutnya, salah satu ruang yang dapat dikembangkan adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui UMKM.
“Bagaimana Gema Denbukit bisa membantu masyarakat dalam bidang UMKM dan mendorong peningkatan usaha-usaha masyarakat. Kehadiran organisasi harus bisa memberikan manfaat nyata,” katanya.
Sementara itu, Nyoman Suberata mendorong agar proses perekrutan anggota segera dilakukan secara terbuka. Menurutnya, Gema Denbukit harus menjadi rumah bersama tanpa membedakan warna, golongan maupun latar belakang.
Yang menjadi semangat bersama, kata dia, adalah ikatan sebagai warih Denbukit dan bagian dari masyarakat Bali Utara.
“Yang terpenting adalah semangat kebersamaan sebagai warih Denbukit. Kita ingin Gema Denbukit hadir sebagai wadah yang mempersatukan masyarakat untuk menjaga Gumi Denbukit,” ungkapnya.
Dengan semangat tersebut, rapat para pendiri menjadi langkah awal untuk membangun fondasi organisasi yang lebih kuat. Penguatan struktur, konsolidasi anggota dan pembukaan ruang kebersamaan akan menjadi pijakan sebelum Gema Denbukit bergerak menjalankan program-program sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Dari Denbukit untuk Buleleng, dari kebersamaan untuk kemanfaatan. ( Roy).
Red : IGI COM




