
DENPASAR ,indoglobalindonesia.com//— Enam tahun bukan waktu yang panjang. Namun bagi Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB), enam tahun adalah perjalanan yang penuh makna—tentang pengabdian, persaudaraan, kepedulian, dan komitmen untuk terus berbuat bagi Gumi Bali.
Pada 6 September 2026, keluarga besar YKKB akan memperingati hari jadinya yang ke-6. Peringatan yang akan dihadiri tokoh masyarakat Bali, birokrat, serta Semeton Kesatria Keris YKKB yang ada di seluruh Bali sampai ke pelosok desa serta ada 40 tim hukum yang senan tiasa siap membela yang membutuhkan bantuan hukum akan digelar di kawasan suci Pura Luhur Candi Narmada, Jalan Tanah Kilap, Pemogan, Denpasar.
Namun, perayaan ini bukan sekadar seremoni.
Di tempat yang sarat nilai spiritual itu, YKKB ingin kembali meneguhkan komitmennya: hadir di tengah masyarakat, melayani dengan ketulusan, dan mengabdi kepada tanah leluhur, sekaligus untuk melakukan instropeksi dan evaluasi sesuai dengan tema : *Mulat Sarira Nyujur Rahayu*
Enam tahun mungkin masih tergolong muda. Tetapi jejak YKKB sudah mulai dirasakan masyarakat. Dari membantu warga kurang mampu melalui bantuan kursi roda, berbagi sembako, donor darah, hingga berbagai kegiatan sosial lainnya. Bahkan, YKKB juga hadir memberikan pendampingan hukum bagi masyarakat yang membutuhkan akses terhadap keadilan.
Semua itu berangkat dari satu semangat yang terus digelorakan:
“Menyama Tanpa Batas, Menyama Tanpa Identitas, Menyama Sampai Tuntas.”
Bagi keluarga besar YKKB, menyama bukan sekadar slogan. Ia menjadi cara untuk hadir, bergerak dan membantu siapa pun yang membutuhkan, tanpa melihat latar belakang.
Di balik perjalanan tersebut, ada sosok I Ketut Putra Ismaya Jaya atau Jro Bima, sang nakhoda YKKB.
Kesederhanaan, kepedulian sosial dan kharismanya menjadi energi yang membuat gerbong besar YKKB terus bergerak. Ia tidak hanya mendorong program keluar untuk masyarakat, tetapi juga berusaha menjaga kebersamaan seluruh Semeton YKKB.
Mereka yang Menanam, Tak Boleh Dilupakan
Enam tahun perjalanan Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB) bukanlah perjalanan yang lahir dalam sekejap.
Di balik langkah YKKB hingga mampu hadir di berbagai pelosok Bali, ada tangan-tangan yang sejak awal ikut menanamkan pondasi, menjaga semangat kebersamaan, serta meletakkan nilai-nilai pengabdian.
Salah satu sosok yang patut mendapat penghormatan adalah Pembina YKKB, I Putu Budi Sastra, S.E. (Pak Mang Kove), yang turut hadir dan ikut mengambil bagian dalam proses awal berdirinya yayasan.
Bagi keluarga besar YKKB, peran beliau bukan sekadar bagian dari sejarah. Ada ketulusan, pemikiran dan semangat yang ikut mengiringi langkah awal YKKB hingga dapat tumbuh seperti sekarang.
Karena sebuah perjalanan panjang tidak hanya berbicara tentang siapa yang melanjutkan langkah, tetapi juga tentang siapa yang pertama kali berani menanamkan benih.
Enam tahun kemudian, benih itu telah tumbuh menjadi sebuah gerakan sosial yang terus berusaha hadir untuk masyarakat Bali. Dan nama-nama yang pernah menanamkan pondasi kebaikan akan selalu mendapat tempat terhormat dalam perjalanan YKKB.
YKKB boleh terus melangkah ke depan, tetapi tidak akan pernah melupakan mereka yang ikut meletakkan batu pertama.
Buat pembuka lebih menggugah
Gerbong itu kini semakin besar.
Di dalamnya ada banyak orang dengan latar belakang berbeda, tetapi disatukan oleh semangat persaudaraan dan keinginan untuk berbuat baik. Suka dan duka dirasakan bersama.
Kebersamaan itulah yang membuat semakin banyak orang memilih bergabung.
Tak berlebihan jika YKKB kemudian tumbuh menjadi salah satu ruang yang mempertemukan dan mempersatukan masyarakat Bali dalam semangat menyama braya.
Enam tahun perjalanan menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Tetapi kebaikan tidak boleh berhenti hanya karena tantangan.
“*Ketika kita menanam padi, mungkin ilalang akan ikut tumbuh. Tetapi ketika kita menanam ilalang, tidak akan pernah tumbuh padi*”
Pesan sederhana itu menjadi filosofi: teruslah menanam kebaikan, meski prosesnya tidak selalu mudah. Sebab pada waktunya, kebaikan akan tumbuh dan memberikan manfaat.
Di usia ke-6 ini, harapan pun terus disematkan.
Semoga YKKB tetap metaksu, menjadi bagian dari kekuatan yang menjaga Gumi Bali, merawat persaudaraan, serta ikut melestarikan adat dan budaya Bali yang adi luhung.
Enam tahun bukan garis akhir.
Ini adalah awal untuk perjalanan yang lebih panjang.
Untuk terus ngayah. Untuk terus melayani. Untuk terus berbagi.
Kesatria Keris Bali, ngayah… ngayah… ngayah… Sukseees
Selamat HUT ke-6 Yayasan Kesatria Keris Bali.
Menyama Tanpa Batas. Menyama Tanpa Identitas.
Menyama Sampai Tuntas (Roy)
Red : IGI COM




