Buleleng, Info Global Indonesia.com // — Peluang usaha terkadang tidak datang dalam bentuk sesuatu yang baru. Ia justru bisa lahir dari apa yang setiap hari ada di sekitar kita, ketika seseorang mampu melihatnya dengan cara berbeda.

Hal itulah yang dilakukan I Made Suardipa, pengusaha asal Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali.
Di tengah hamparan kebun anggur yang menjadi salah satu potensi pertanian Desa Dencarik, Suardipa melihat persoalan yang selama ini kerap dihadapi petani. Saat musim panen raya tiba, produksi buah anggur melimpah. Tidak semuanya terserap pasar. Sebagian bahkan terbuang, sementara harga jualnya terkadang jauh di bawah biaya perawatan tanaman.

Kondisi tersebut justru memunculkan sebuah gagasan.
Suardipa mencoba mengolah buah anggur menjadi produk bernilai tambah berupa minuman fermentasi buah anggur atau wine anggur.
“Awalnya saya mencoba mengolah anggur menjadi minuman fermentasi untuk usaha UMKM di desa. Ternyata banyak peminat dan akhirnya terus saya kembangkan,” ungkap Suardipa penuh semangat.

Dari percobaan sederhana itu, usaha yang dirintisnya perlahan berkembang.

Produk wine anggur buatannya mulai dikenal, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan Bali Utara.

Mengembangkan Wine dari Anggur Organik

Yang menjadi perhatian Suardipa bukan sekadar bagaimana mengolah buah anggur menjadi produk baru. Ia juga berusaha menjaga konsep budidaya bahan bakunya.
Anggur yang digunakan diupayakan berasal dari tanaman yang dibudidayakan secara organik, tanpa mengandalkan pupuk atau bahan kimia.

Menariknya, upaya menjaga ketersediaan pupuk organik dilakukan dengan memanfaatkan kembali bagian tanaman anggur yang selama ini dianggap sebagai limbah.
Daun dan sisa tanaman anggur dikumpulkan, kemudian diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Konsep tersebut membuat usaha Suardipa tidak berhenti pada produksi minuman. Ia mencoba membangun sebuah siklus usaha yang memanfaatkan potensi pertanian lokal sekaligus mengurangi limbah tanaman.

Permintaan yang terus berkembang bahkan membuat Suardipa tidak lagi hanya mengandalkan hasil kebun petani. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku, ia menanam sendiri tanaman anggur di lahan seluas sekitar 25 are.

Ratusan tanaman anggur kini dirawatnya dengan penuh perhatian.

Hari-harinya banyak dihabiskan di kebun, memastikan tanaman tumbuh dengan baik sekaligus melakukan berbagai percobaan untuk meningkatkan kualitas produk fermentasi yang dihasilkannya.

Wisatawan Mancanegara Ikut Mencicipi

Perjalanan usaha tersebut kemudian menemukan pasar yang menarik.
Wisatawan mancanegara yang datang ke Bali Utara menjadi salah satu konsumen yang menikmati produk wine anggur hasil inovasinya.
Setiap tamu yang datang bahkan diberikan kesempatan mencicipi produk tersebut sebagai tester atau welcome drink.

Bagi Suardipa, cara tersebut bukan sekadar menawarkan minuman, tetapi juga memperkenalkan potensi buah anggur Buleleng kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan dari berbagai negara.
“Banyak tamu yang tertarik setelah mencoba. Dari sana mereka kemudian mengenal produk yang kami buat,” katanya.

Meski demikian, perjalanan mengembangkan usaha tersebut bukan tanpa tantangan.
Suardipa mengaku masih menghadapi kendala dalam memperoleh perizinan dan legalitas pemasaran produk.

Berdasarkan pembinaan dari Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi UKM Kabupaten Buleleng, pemasaran dan penjualan produk tersebut diarahkan melalui BUMDes atau koperasi lokal sesuai ketentuan yang berlaku.

Berharap Ada Pabrik Pengolahan Anggur di Bali Utara

Di balik usaha yang terus dikembangkannya, Suardipa menyimpan harapan lebih besar bagi petani anggur di Buleleng.
Menurutnya, persoalan harga dan penyerapan hasil panen akan lebih mudah diatasi apabila tersedia industri pengolahan anggur di Bali Utara.

Ia berharap pemerintah daerah dapat mendorong pembangunan fasilitas atau pabrik pengolahan yang mampu menampung hasil produksi petani.
“Saya berharap pemerintah daerah bisa membangun pabrik pengolahan anggur di Bali Utara. Dengan begitu, buah anggur petani Buleleng bisa terserap dan kesejahteraan petani juga meningkat,” harapnya.

Bagi Suardipa, keberadaan industri pengolahan bukan hanya soal bisnis. Lebih jauh, hal itu menyangkut keberlanjutan pertanian dan kepastian pasar bagi para petani.
Sebab, ketika hasil panen tidak lagi sekadar dijual sebagai buah segar, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, maka peluang ekonomi yang tercipta juga semakin besar.

Dari Kebun, Menjadi Sebuah Cerita
Kini, hampir setiap hari Suardipa kembali ke kebunnya.

Ia merawat tanaman, memperhatikan kualitas buah, mengembangkan pupuk organik, sekaligus terus melakukan inovasi dalam proses pengolahan minuman fermentasi buah anggur.
Apa yang awalnya berangkat dari kegelisahan melihat buah anggur yang melimpah dan tidak terserap pasar, perlahan berubah menjadi sebuah peluang usaha.

Kisah Suardipa menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan modal besar.
Terkadang, inovasi dimulai dari keberanian untuk bertanya: apa yang bisa dilakukan terhadap sesuatu yang selama ini dianggap biasa?

Di Desa Dencarik, jawabannya ditemukan Suardipa pada buah anggur.

Dari kebun, ia mencoba menciptakan nilai tambah. Dari limbah tanaman, ia membuat pupuk organik. Dari hasil panen, ia membangun usaha.
Dan dari sana, sebuah cerita tentang petani, inovasi, UMKM dan harapan terhadap masa depan anggur Bali Utara terus tumbuh.(Roy)

Red: ICI COM