DENPASAR,infoglobalindonesia.com// – Dimulainya pembangunan  Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya dinilai bukan sekadar proyek infrastruktur pengelolaan limbah, melainkan tonggak penting transformasi Bali menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan. Melalui proyek ini, sampah diharapkan tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi sebagai sumber energi dan penggerak pertumbuhan ekonomi hijau.

Proyek senilai Rp3 triliun tersebut resmi dimulai melalui penandatanganan Sponsor Agreement dan Power Purchase Agreement (PPA) antara PT PLN (Persero) dan Badan Usaha Pembangunan PSEL pada Rabu (8/7/2026). Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun dan menghasilkan listrik ramah lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan sekitar 100 ribu rumah tangga di Bali.

Ketua DPW Partai Perindo Bali, Ketut Putra Ismaya Jaya atau yang akrab disapa Jro Bima, menyambut baik dimulainya proyek strategis tersebut. Menurutnya, PSEL merupakan langkah nyata yang akan mengubah paradigma pengelolaan sampah di Pulau Dewata.
“Pembangunan PSEL Denpasar Raya harus menjadi titik balik cara kita memandang sampah. Sampah bukan lagi sekadar persoalan lingkungan, tetapi aset yang mampu menghasilkan energi bersih, membuka lapangan kerja, dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian daerah,” ujar Jro Bima, Jumat (10/7/2026).
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB) itu menilai konsep tersebut selaras dengan arah pembangunan ekonomi sirkular yang kini menjadi perhatian berbagai negara. Melalui sistem ini, sumber daya dimanfaatkan secara maksimal sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus memperpanjang nilai ekonominya.

Namun demikian, Jro Bima mengingatkan bahwa keberhasilan PSEL tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Menurutnya, pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir tetap menjadi kunci utama, mulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, penguatan bank sampah, hingga peningkatan kesadaran masyarakat.
“Teknologi harus berjalan beriringan dengan perubahan perilaku masyarakat. Jika pemilahan sampah sejak dari sumber dilakukan dengan baik, maka efisiensi PSEL akan semakin tinggi dan manfaatnya akan jauh lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Jro Bima menilai keberadaan PSEL akan memperkuat citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga daya saing pariwisata Bali di tingkat internasional.
Ia berharap proyek ini menjadi model pengelolaan sampah modern yang mampu mengintegrasikan aspek lingkungan, energi, dan ekonomi dalam satu ekosistem pembangunan berkelanjutan, sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
“Jika pengelolaan sampah dilakukan secara terpadu, manfaatnya tidak hanya menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga menghasilkan energi terbarukan, membuka peluang ekonomi baru, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Jro Bima.(Roy)

Red: IGI COM