SINGARAJA, infoglobalindonesia.com // – Wajah Buleleng, khususnya Kota Singaraja, perlahan memang mulai berubah.

Di bawah duet kepemimpinan Bupati Nyoman Sucipta dan Wakil Bupati Supriatna, sejumlah penataan kawasan mulai terlihat. Ada titik-titik baru yang menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata lokal. Kawasan yang sebelumnya biasa saja, kini mulai ramai dikunjungi masyarakat.

Perubahan tentu patut diapresiasi.

Sebab, masyarakat Buleleng memang membutuhkan ruang baru, tempat berkumpul, tempat menikmati hiburan, sekaligus wajah kota yang lebih tertata.

Tetapi di balik perubahan itu, ada satu pertanyaan sederhana yang barangkali penting untuk kita renungkan bersama:

Apakah wajah baru Singaraja benar-benar akan menjadi wajah Bali Utara, atau justru perlahan menjadi wajah daerah lain yang ditempelkan di Singaraja?

Pertanyaan itu bukan untuk menolak pembangunan.

Justru sebaliknya, pembangunan harus terus berjalan. Tetapi pembangunan sebaiknya tidak hanya berbicara tentang beton, trotoar, lampu, ornamen dan landscape. Pembangunan juga harus berbicara tentang identitas, sejarah dan karakter masyarakatnya.

Kita bisa melihat bagaimana beberapa kawasan baru mulai menjadi magnet masyarakat. Sebut saja kawasan yang dikenal sebagai Titik Nol. Tempat yang sebelumnya mungkin tidak terlalu diperhitungkan, kini menjadi salah satu ruang yang ramai dikunjungi.

Begitulah Buleleng.

Masyarakatnya haus akan ruang baru. Begitu ada sesuatu yang baru, mereka datang. Ada hiburan, ramai. Ada kuliner baru, ramai. Ada tempat nongkrong baru, ramai.

Ini bukan kelemahan.

Justru ini adalah potensi besar yang dimiliki masyarakat Buleleng.

Kemudian ada penataan kawasan Lovina, yang sejak lama menjadi salah satu maskot pariwisata Buleleng. Kita tentu berharap penataan Lovina benar-benar mampu mengembalikan kejayaan kawasan tersebut sebagai destinasi unggulan Bali Utara.

Namun harapannya sederhana:

Jangan membuat Lovina menjadi tempat wisata yang kehilangan Buleleng-nya.

Begitu pula dengan kawasan Pantai Penimbangan, kawasan pantai utara kota, hingga kini penataan yang mulai menyentuh kawasan Jalan Diponegoro.

Konon, Jalan Diponegoro akan dikembangkan menjadi kawasan pusat kuliner Bali Utara.

Kalau benar demikian, tentu kita acungi jempol.

Tetapi jangan berhenti pada konsep “pusat kuliner”.

Jadikan kawasan itu sebagai etalase kuliner dan kebudayaan Bali Utara.

Jangan sampai kita kembali hanya menjiplak konsep Malioboro, Yogyakarta, atau kawasan kota lain. Singaraja bukan Yogyakarta. Buleleng bukan Jawa Tengah.

Singaraja punya cerita sendiri. Buleleng punya karakter sendiri. Bali Utara punya jiwa sendiri.

Mengapa tidak menghadirkan arsitektur dan tata ruang yang menggali kembali karakter Bali Utara?

Mengapa tidak mempertemukan kuliner lokal dengan sejarah Singaraja?

Mengapa tidak memberi ruang kepada pedagang kecil, UMKM, seniman, musisi, pelaku budaya dan anak-anak muda Buleleng?

Bahkan keberagaman yang sudah lama hidup di Singaraja seharusnya menjadi kekuatan.

Ada jejak budaya Bali, Melayu, Madura, Arab, Tionghoa dan berbagai komunitas lainnya yang selama puluhan bahkan ratusan tahun hidup berdampingan.

Bukankah itu justru kekayaan Singaraja?

Berbeda tetapi bersaudara. Beragam tetapi satu ruang.

Itulah wajah Singaraja yang sesungguhnya.

Karena itu, kalau Jalan Diponegoro hendak dijadikan kawasan kuliner, jangan hanya makanan yang dijejerkan.

Tetapi ceritanya juga harus dihidupkan.

Tampilkan makanan rakyat yang selama ini mungkin belum terlalu dikenal. Perkenalkan cara memasaknya. Hadirkan demo kuliner. Ceritakan sejarahnya. Berikan ruang kepada pelaku UMKM lokal.

Buat wisatawan datang bukan hanya untuk makan.

Tetapi datang karena ingin merasakan Singaraja.

Bahkan kalau perlu, setiap sudut memiliki cerita.

Ada kuliner khas Bali Utara. Ada makanan masyarakat pesisir. Ada warisan komunitas Tionghoa. Ada kuliner Arab dan Madura. Ada jajanan tradisional. Ada musik lokal.

Semuanya bertemu dalam satu semangat:

Singaraja Rumah Kita Bersama.

Dan jangan lupa, kawasan kuliner tidak boleh hanya berhenti di pusat kota.

Dari Lovina di barat, kawasan Pantai Pura Segara Banyuasri, Pantai Indah, hingga Kerobokan dan Sangsit, sesungguhnya sudah tumbuh kuliner rakyat, termasuk kuliner ikan bakar.

Mereka mungkin belum memiliki landscape yang indah.

Mereka mungkin belum memiliki trotoar yang bagus.

Tetapi mereka sudah memiliki satu hal yang tidak bisa dibangun dalam semalam:

cerita dan kehidupan masyarakat.

Maka penataan sebaiknya bukan berarti menggusur karakter yang sudah ada.

Penataan harus menjadi cara untuk mengangkat yang sudah hidup menjadi lebih baik.

Kalau ada warga yang menolak sebagian rencana penataan, jangan buru-buru dianggap sebagai penghambat pembangunan.

Mungkin yang dibutuhkan adalah komunikasi.

Duduk bersama.

Dengar kekhawatiran mereka.

Jelaskan rencananya.

Cari titik temu.

Karena pembangunan yang baik bukan hanya indah ketika difoto dari udara, tetapi juga membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya merasa dihargai.

Dan satu lagi.

Buleleng adalah gudangnya seniman dan penyanyi.

Ketika sebuah festival menghadirkan artis dari luar daerah, tentu tidak salah. Tetapi sesekali mari kita bertanya:

Mengapa tidak lebih banyak memberikan panggung kepada anak-anak Buleleng sendiri?

Banyak talenta lokal yang kualitasnya tidak kalah.

Kalau pemerintah serius ingin membangun ekonomi kreatif, maka panggung harus diberikan kepada mereka.

Biarkan anak-anak Buleleng tampil di tanahnya sendiri.

Sebab pembangunan bukan hanya soal bangunan.

Pembangunan juga tentang memberikan kesempatan.

Pada akhirnya, kita tentu berharap seluruh penataan kawasan di Kota Singaraja—mulai Titik Nol, Lovina, Pantai Penimbangan, kawasan pantai utara hingga Jalan Diponegoro—menjadi bagian dari sebuah desain besar.

Bukan pembangunan yang berdiri sendiri-sendiri.

Tetapi satu konsep:

Membangun Singaraja tanpa menghilangkan Singaraja.

Membangun Buleleng tanpa menghapus karakter Bali Utara.

Karena modern tidak berarti harus meninggalkan tradisi.

Maju tidak berarti harus meniru daerah lain.

Dan indah tidak harus kehilangan identitas.

Menjelang pesta demokrasi 2029, tentu masyarakat akan semakin kritis melihat apa yang sudah dikerjakan dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Maka biarkan masyarakat menilai.

Biarkan para netizen berdiskusi.

Biarkan ruang publik menjadi tempat bertukar gagasan.

Bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar kembali kepada masyarakat.

Sebab pada akhirnya, yang kita inginkan bukan sekadar Singaraja yang terlihat baru.

Kita ingin Singaraja yang lebih maju, lebih hidup, lebih sejahtera—tetapi tetap terasa sebagai Singaraja.

Berbenah boleh. Modern boleh. Berkembang wajib.

Tetapi satu pesan jangan dilupakan:

JANGAN SAMPAI KITA MEMBANGUN WAJAH BARU, TETAPI KEHILANGAN JIWA BALI UTARA. ( Mbah Giok’s/Roy)

Red: IGI COM