
BULELENG, infoglobalindonesia.com // – Kesadaran demokrasi tidak cukup hanya dibangun ketika masyarakat sudah berada di tempat pemungutan suara. Pemahaman mengenai hak dan tanggung jawab sebagai warga negara perlu ditanamkan sejak dini, terutama kepada generasi muda yang kelak akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah perjalanan demokrasi Indonesia.
Semangat itulah yang terus dibangun Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buleleng melalui kegiatan Sosialisasi Pendidikan Demokrasi bagi pemilih pemula di SMAN 1 Tejakula.
Kegiatan yang diikuti peserta didik kelas XI tersebut menjadi bagian dari upaya KPU Buleleng dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai demokrasi, kepemiluan, serta pentingnya menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari Kepala SMAN 1 Tejakula, Nyoman Sukrada, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengajak para peserta didik untuk memahami bahwa sebagai warga negara Indonesia, setiap individu memiliki kewajiban untuk memahami serta mengikuti regulasi dan aturan yang berlaku.
Menurutnya, pendidikan pemilih yang diberikan oleh KPU menjadi kesempatan berharga bagi para siswa untuk mengenal proses demokrasi secara lebih mendalam.
Dengan pemahaman yang baik, generasi muda nantinya diharapkan mampu menentukan pilihan secara bijaksana sekaligus bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah diberikan.
Materi sosialisasi disampaikan oleh Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat, dan Sumber Daya Manusia (Sosdiklih Parmas SDM) KPU Kabupaten Buleleng, Putu Arya Suarnata.
Dalam pemaparannya, Putu Arya mengajak para peserta memahami alasan mendasar mengapa pemilu menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Pertanyaan, “Kenapa harus pemilu?”, menjadi salah satu materi yang menarik perhatian peserta. Dijelaskan bahwa pemilu merupakan sarana bagi rakyat untuk menentukan pemimpinnya secara demokratis. Melalui pemilu, masyarakat diberikan kesempatan untuk memilih pemimpin yang nantinya menjalankan amanah serta mewakili kepentingan rakyat.
Pemahaman tersebut pun mendapat respons dari para peserta didik. Salah seorang siswa, Sukma, menyampaikan bahwa pemilu merupakan cara untuk memilih pemimpin. Jawaban sederhana tersebut menunjukkan bahwa para pemilih pemula telah mulai memahami fungsi dasar pemilu sebagai bagian penting dalam sistem demokrasi.
Tak hanya membahas konsep dasar pemilu, peserta juga diperkenalkan dengan perjalanan demokrasi Indonesia. Putu Arya Suarnata menjelaskan bahwa tahun 2004 menjadi momentum penting karena untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia memilih Presiden dan Wakil Presiden secara langsung.
Penjelasan mengenai sejarah tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik memahami perkembangan demokrasi dan kepemiluan di Indonesia dari waktu ke waktu.
Dalam kegiatan itu, peserta juga diperkenalkan dengan tiga komponen utama dalam pemilu, yakni peserta pemilu, pemilih, dan penyelenggara pemilu. Ketiganya memiliki peran masing-masing dan saling berkaitan dalam mewujudkan proses demokrasi yang demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.
Materi lainnya yang turut mendapat perhatian adalah mengenai keterwakilan perempuan dalam politik. Putu Arya Suarnata menjelaskan ketentuan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen dalam pencalonan anggota legislatif oleh partai politik. Hal tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendorong keterlibatan dan keterwakilan perempuan dalam dunia politik.
Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara interaktif. Salah satu pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan syarat untuk menjadi pemilih. Pertanyaan tersebut mendapat respons aktif dari para peserta didik, di antaranya Kenzie dan Putri yang turut menyampaikan jawabannya.
Interaksi tersebut membuat suasana sosialisasi menjadi lebih hidup. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga dilibatkan secara langsung untuk memahami berbagai aspek dalam proses demokrasi dan kepemiluan.
Melalui kegiatan pendidikan demokrasi ini, KPU Kabupaten Buleleng berharap para peserta didik sebagai calon pemilih dan pemilih pemula dapat memahami hak serta tanggung jawabnya sebagai warga negara.
Pendidikan demokrasi sejak bangku sekolah diharapkan mampu membentuk generasi muda yang kritis, cerdas, bertanggung jawab, serta tidak mudah terpengaruh dalam menentukan pilihan politiknya.
Dengan bekal pemahaman yang kuat, para pemilih muda diharapkan tidak hanya hadir di tempat pemungutan suara, tetapi juga mampu menggunakan hak pilihnya dengan penuh kesadaran dan pertimbangan demi masa depan demokrasi Indonesia yang semakin berkualitas.(Roy)
Red : IGi COM





