SINGARAJA, Info Global Indonesia.com // – Demokrasi tidak cukup hanya dipahami saat berada di bilik suara. Kesadaran berdemokrasi perlu dibangun sejak bangku sekolah, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi pemilih pemula dalam pesta demokrasi.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Pendidikan Politik yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buleleng bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Buleleng di SMA Negeri 1 Busungbiu, Selasa (15/9/2026).
Sekitar 100 siswa dan siswi kelas XII mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 10.40 WITA tersebut. Para pelajar tidak hanya diperkenalkan dengan konsep demokrasi, tetapi juga diajak memahami bagaimana keputusan politik negara pada akhirnya bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Anggota KPU Kabupaten Buleleng sekaligus Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Putu Arya Suarnata, hadir sebagai pemateri.
Dalam paparannya, Putu Arya menjelaskan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Para siswa juga diperkenalkan dengan konsep Trias Politika, yakni pembagian kekuasaan negara untuk mencegah terjadinya pemusatan sekaligus penyalahgunaan kekuasaan.
Menurutnya, pemahaman terhadap demokrasi penting karena sistem tersebut tidak berdiri jauh dari kehidupan masyarakat. Kebijakan yang lahir dari proses politik dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, telekomunikasi, transportasi, pembangunan hingga kebijakan subsidi.
“Politik itu dekat dengan kehidupan kita. Kebijakan yang dibuat melalui proses politik pada akhirnya akan dirasakan masyarakat,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Para siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai makna politik, termasuk pengertian politik dalam KBBI dan pandangan Miriam Budiardjo. Politik dipahami sebagai bagian dari kehidupan bernegara yang berkaitan dengan proses menentukan dan melaksanakan tujuan dalam suatu sistem politik, termasuk proses memengaruhi distribusi kekuasaan.
Suara Pemilih Pemula Menentukan Masa Depan Demokrasi
Dalam kesempatan itu, Putu Arya menekankan pentingnya pemungutan suara sebagai salah satu bentuk nyata kedaulatan rakyat. Pemilu bukan sekadar mencoblos, melainkan menjadi sarana partisipasi politik, pendidikan demokrasi sekaligus mekanisme pergantian kepemimpinan secara damai dan konstitusional.
Para siswa juga diperkenalkan dengan peran masing-masing lembaga penyelenggara pemilu. KPU bertugas menyelenggarakan tahapan pemilu, Bawaslu melakukan pengawasan, sedangkan DKPP berperan menjaga etika dan perilaku penyelenggara pemilu.
Pemahaman mengenai persyaratan menjadi pemilih maupun peserta Pemilu dan Pemilihan turut diberikan. Hal ini dinilai penting karena siswa kelas XII merupakan bagian dari generasi yang akan memasuki ruang partisipasi politik secara lebih langsung.
Generasi muda, kata Putu Arya, memiliki posisi strategis dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Karena itu, pemilih pemula perlu dibekali pengetahuan yang memadai agar tidak sekadar menggunakan hak pilih, tetapi mampu menentukan pilihan secara rasional dan bertanggung jawab.
Jangan Mudah Percaya Informasi
Tidak kalah penting, para siswa diajak menjadi generasi yang kritis menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Mereka diingatkan agar tidak serta-merta mempercayai setiap informasi yang beredar, khususnya informasi yang berkaitan dengan politik dan pemilu. Setiap informasi perlu diklarifikasi, dibandingkan dengan sumber lain, dan ditelaah sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
“Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang terpenting adalah bagaimana pendapat tersebut disampaikan dengan baik dan bertanggung jawab,” demikian pesan yang ditekankan dalam pendidikan demokrasi tersebut.
Para pelajar juga didorong untuk membiasakan diri berbicara, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat di lingkungan sekolah. Ruang kelas dipandang sebagai salah satu tempat penting untuk melatih budaya demokrasi sejak dini.
Dengan demikian, pendidikan demokrasi tidak berhenti pada teori tentang pemilu, tetapi juga membentuk karakter generasi muda agar mampu menghargai perbedaan, berpikir kritis, serta bertanggung jawab terhadap setiap informasi dan keputusan yang diambil.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para siswa dan diakhiri dengan foto bersama. Rangkaian Sosialisasi Pendidikan Politik tersebut berakhir sekitar pukul 12.00 WITA dalam keadaan aman dan lancar.
Melalui kegiatan ini, KPU Buleleng berharap pemilih pemula tidak hanya mengenal pemilu, tetapi juga memahami makna demokrasi secara utuh. Sebab, demokrasi yang kuat tidak lahir hanya dari banyaknya suara di bilik suara, tetapi dari pemilih yang sadar, cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.( Roy)
Red : IGI COM





