Mangupura, infoglobalindonesia.com //– Komitmen menjaga warisan leluhur sekaligus mempererat tali pasemetonan ditunjukkan Pengurus Kabupaten Pratisentana Bandesa Manik Mas (PBMM) Badung melalui pemberian “Tali Kasih” kepada 100 pemangku dan pinandita se-Kabupaten Badung.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat pada saat gelaran Lokasabha VI PBMM Badung yang digelar di Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian para pemangku atau Pinandita dalam menjaga kesucian upacara yadnya di tengah masyarakat.

Ketua PBMM Badung terpilih, Jro Gede Komang Widiarta, ST yang akrab disapa Jro Widhi, menegaskan bahwa tali kasih yang diberikan bukan sekadar simbol apresiasi, melainkan wujud kepedulian organisasi terhadap peran strategis pemangku dalam menjaga jati diri warih Bandesa Manik Mas.
“Ini bukan soal nilai materi, tetapi bagaimana kita bersama-sama memperkuat pemahaman dan keterlibatan pemangku dalam menjaga warisan leluhur yang kita miliki,” tegasnya.

Perkuat Pemahaman Warisan Leluhur

Jro Widhi menyoroti pentingnya pemahaman mendalam terhadap pakem dan kekhasan warisan spiritual yang dimiliki oleh pasemetonan Bandesa Manik Mas.

Menurutnya, pemangku harus memiliki landasan kuat dalam menjalankan tugas saat memuput upacara Panca Yadnya, baik Manusa, Pitra, maupun Dewa Yadnya.

Ia menyebutkan sejumlah warisan penting seperti puja mantra, kajang kawitan, hingga penggunaan agem-ageman Bandesa Manik Mas seperti Siwer Mas, Canting Mas, dan Sulambang Geni yang harus terus dijaga dan dipahami secara utuh.
“Warisan ini sangat spesifik dan tidak dimiliki oleh semua trah. Kalau tidak kita pahami dan pelajari secara serius, bukan tidak mungkin akan hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.

Diklat dan Sinkronisasi Jadi Kunci

Sebagai langkah konkret, PBMM Badung berencana menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) singkat bagi para pemangku yang ingin memperdalam aspek teknis maupun filosofis.

Namun demikian, Jro Widhi menekankan pentingnya sinkronisasi dengan PBMM Pusat agar tidak terjadi perbedaan persepsi di tingkat bawah.
“Kami berharap inisiasi ini dimulai dari pusat. Sinkronisasi vertikal sangat penting agar tidak menimbulkan perbedaan pemahaman yang berpotensi memicu gesekan antar semeton,” jelasnya.

Dorong Pembentukan Timsus Nasional

Lebih jauh, ia juga mendorong Sabha Pinandita tingkat pusat untuk segera membentuk Tim Khusus (Timsus) yang bertugas menyusun standarisasi materi ajaran dan praktik kepemangkuan.

Tim tersebut diharapkan diisi oleh figur-figur kompeten yang mampu merumuskan pedoman baku, yang nantinya dikukuhkan melalui Surat Keputusan (SK) Pengurus Pusat.
“Dengan adanya standar yang jelas dan disahkan secara organisasi, tidak akan ada lagi klaim sepihak. Kita butuh satu garis pemahaman demi menjaga keajegan dan keharmonisan pasemetonan Bandesa Manik Mas di seluruh Nusantara,” pungkas Jro Widhi.
(JW)

Redaktur : IGI COM

Reporter : Jro Widiarta