INFO GLOBAL
Redaksi: infoglobalindonesia.com
Rabu, 08 Oktober 2025 | 20.05 WIB.

JAMBI – ACEH //–Di tengah dinamika sosial dan politik tanah air, nama Ir. Sri Ariana Ningsih, CPM, CPCE mungkin belum begitu akrab di telinga publik luas. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan sebuah kisah panjang penuh keteguhan, dedikasi, dan pengabdian — dari kader posyandu di akar rumput hingga menjabat sebagai Ketua Umum organisasi tingkat nasional.

Ujian Hidup dan Keteguhan Seorang Ibu

Tahun 1992 menjadi salah satu bab paling berat dalam perjalanan hidupnya. Setelah melahirkan anak ketiga, Sri Ariana divonis mengidap kanker serviks (Ca Servik Uterus) oleh dokter. Vonis itu tidak membuatnya menyerah. Ia menjalani medical check up rutin selama empat tahun, hingga akhirnya harus menjalani operasi pengangkatan rahim.
Namun, di tengah perjuangan melawan penyakit mematikan itu, ia tetap aktif dalam kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat.

“Sambil medical check up, kegiatan untuk masyarakat tetap saya jalani,” tuturnya mengenang masa itu dengan mata berkaca-kaca.

Peristiwa itu menjadi fondasi keteguhan batinnya — bahwa hidup adalah perjuangan untuk memberi arti, bukan sekadar bertahan.

Dari Medan ke Kancah Nasional: Fondasi yang Kokoh
Perempuan kelahiran Banda Aceh, 28 November 1962 ini menempuh pendidikan sejak dini di TK Ibu Loes Banda Aceh, SD Medan Putri, SMP Laksamana Martadinata, dan SMA Negeri 3 Medan, hingga akhirnya meraih gelar di Fakultas Pertanian Unaya.
Kesadarannya akan pentingnya belajar tanpa henti membuatnya mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari mediator hukum kontrak, pelatihan kewirausahaan, hingga kursus bahasa Inggris.

Merintis dari Pelayanan Dasar
Kiprah sosialnya dimulai dari bawah, di sektor kesehatan masyarakat. Ia meraih penghargaan Kader Posyandu Terbaik Tingkat Nasional (1998) dan Pengelola KB Nasional Terbaik (1999), serta menerima piagam dari Menteri Kesehatan atas suksesnya Pekan Imunisasi Nasional (1997).
Ia bukan hanya organisatoris di atas kertas, tetapi benar-benar turun ke lapangan — mendampingi, mengajar, dan menginspirasi kaum ibu di pelosok daerah.

Melanglang Buana: Dari Bisnis hingga Rekonstruksi Aceh
Pada tahun 2000, Sri Ariana dipercaya menjadi peserta pertukaran perniagaan antar tiga negara (Indonesia–Malaysia–Thailand).
Selepas bencana tsunami Aceh, ia aktif bersama lembaga internasional seperti Japan International Cooperation Agency (JICA), International Republican Institute (IRI), dan World Bank Group (IFC) dalam program rekonstruksi dan konsultasi bisnis.
Keterlibatannya menunjukkan kapasitas sebagai pemikir pembangunan sekaligus pelaku ekonomi berbasis kemanusiaan.

Berkarya di Ranah Politik dan Organisasi
Sri Ariana juga memiliki rekam jejak panjang di dunia politik. Ia pernah duduk sebagai Anggota DPRA periode 2004–2009, dan beberapa kali mencalonkan diri untuk DPR RI.
Di bidang organisasi, ia menapaki karier yang konsisten:

– Ketua DPW PPSBI Provinsi Aceh (2020–2022)
– Bendahara Umum DPN PPSBI (2022–2024)
– Ketua Umum DPN PPSBI (2025–sekarang)
– Selain itu, ia juga memimpin DPW KB WCP (Keluarga Besar Wirawati Catur Panca) Aceh.

Puncak kontribusinya terlihat saat ia memimpin pelantikan pengurus dan peresmian proyek percontohan listrik tenaga surya, yang dihadiri Gubernur Aceh dan seluruh Bupati/Walikota se-Aceh. Momentum itu menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat dan energi terbarukan.

Filsafat Hidup: “Bersama Kita Bisa”
Moto hidupnya sederhana namun bermakna: “Bersama Kita Bisa.”
Filosofi ini tidak sekadar slogan, tetapi menjadi sistem manajemen yang ia terapkan — menumbuhkan semangat kolaborasi dan solidaritas untuk mencapai tujuan bersama.
Baginya, kesuksesan bukanlah hasil individu, melainkan buah kerja sama dan dukungan lintas elemen.

“Profesi dan jabatan adalah amanah. Saya ingin menjadi panutan dan srikandi bagi perempuan Indonesia,” ujarnya tegas.

Pesannya bagi generasi muda juga kuat:
Gunakan waktu untuk belajar, beribadah, dan berbuat baik. Itulah tiga pilar hidup yang ia pegang teguh.

Sebuah Legacy Keteladanan
Perjalanan Ir. Sri Ariana Ningsih bukan sekadar biografi, melainkan feature hidup tentang keteguhan dan ketulusan.
Dari seorang ibu rumah tangga yang berjuang melawan kanker, menjadi kader posyandu, hingga memimpin organisasi nasional, ia membuktikan bahwa setiap fase kehidupan adalah kesempatan untuk belajar, berkontribusi, dan menginspirasi.

Di usianya yang ke-63, ia tetap aktif berkarya dan membangun, menjadikan dirinya teladan nyata Srikandi Nusantara — yang berjuang bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk keberlanjutan generasi berikutnya.

Ia adalah bukti hidup bahwa dengan kebersamaan dan hati yang besar, “Bersama Kita Bisa.” (red)

Redaktur: infoglobalindonesia.com
Tim Investigasi LCKI Provinsi Jambi