
Buleleng, infoglobalindonesia.com //— Dari sebuah keinginan sederhana untuk berbuat sesuatu bagi tanah kelahiran, sebuah gerakan sosial mulai tumbuh di Buleleng. Sejumlah tokoh masyarakat bersama para kerama Gumi Denbukit dalam waktu dekat akan meresmikan sebuah Sekeha Suka Duka bernama Gema Denbukit.
Nama Gema Denbukit bukan sekadar nama. Di dalamnya tersimpan semangat kebersamaan, gotong royong dan kepedulian terhadap sesama, sekaligus sebuah tekad untuk ikut menjaga dan memberikan kontribusi bagi Gumi Panji Sakti.
Gema Den Bukit akan bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.
Namun lebih dari itu, organisasi ini ingin menghidupkan kembali semangat ngayah, sebuah nilai luhur yang sejak dahulu menjadi bagian penting dari adat dan budaya Bali.
Adalah Made Dana, tokoh masyarakat Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, yang menjadi salah satu penggagas lahirnya Sekeha Suka Duka tersebut. Bersama tokoh masyarakat sekaligus pengusaha Kadek Suardipa ,gagasan itu kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan bersama.
Bagi Made Dana, kehidupan sosial tidak cukup hanya dibangun melalui hubungan antarindividu. Ada nilai kebersamaan yang harus terus dirawat agar masyarakat tetap memiliki rasa saling memiliki.
“Keinginan awalnya sederhana, bagaimana kita bisa bersama-sama berbuat sesuatu untuk Gumi Panji Sakti. Kita ingin membangun semangat suka duka, ngayah dan saling membantu,” demikian semangat yang mendasari lahirnya Gema Den Bukit.
Menurutnya, Gema Den Bukit tidak dibentuk untuk kepentingan kelompok tertentu. Organisasi sosial tersebut terbuka bagi siapa saja, terutama kerama Gumi Denbukit, yang memiliki kepedulian dan keinginan untuk ikut berbuat bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, semangat seperti ini dinilai penting untuk terus dipelihara. Sebab, kekuatan masyarakat Bali tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada budaya menyama braya, gotong royong dan ngayah.
Gema Den Bukit diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu, bergerak dan melakukan kegiatan sosial secara bersama-sama. Ketika ada warga yang membutuhkan bantuan, ketika ada kegiatan sosial, maupun ketika masyarakat membutuhkan kehadiran bersama, semangat suka duka itulah yang ingin dikedepankan.
Made Dana berharap, keberadaan organisasi tersebut nantinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Gema Den Bukit harus mampu hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap Gema Den Bukit bisa memberikan kontribusi bagi daerah Buleleng. Tidak besar kecilnya yang utama, tetapi ketulusan untuk berbuat dan membantu sesama,” ujarnya.
Dari Denbukit, sebuah pesan sederhana kini mulai digaungkan: menjaga Gumi Panji Sakti tidak selalu harus dengan langkah besar. Kadang, cukup dimulai dengan kepedulian, kebersamaan dan kesediaan untuk ngayah.
Dan dari semangat itulah, Gema Den Bukit akan dikumandangkan—sebuah suara kebersamaan dari kerama Denbukit untuk sesama dan untuk Buleleng.( Roy)
Red : IGI COM




