Denpasar infoglobalindonesia.com// – Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah Bali. Namun, Desa Sumerta Kelod di Kota Denpasar menunjukkan langkah progresif melalui inovasi berkelanjutan dan edukasi masyarakat yang konsisten.

Hal ini menjadi perhatian dalam kunjungan Tim Komunikasi Gubernur Bali ke Kantor Desa Sumerta Kelod, Kamis (16/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Gubernur Bali, I Putu Eka Mahardhika, berdialog langsung dengan Perbekel Desa Sumerta Kelod, I Gusti Ketut Anom Suardana, terkait perkembangan penanganan sampah di tingkat desa.

Salah satu inovasi unggulan yang dipaparkan adalah pemanfaatan Teba Modern. Program ini telah diinisiasi sejak tahun 2017 sebagai solusi pengolahan sampah organik yang mendominasi limbah di Bali, seperti sisa upacara adat dan dedaunan dari area pura.

Menurut Anom Suardana, Teba Modern memiliki fungsi yang tidak hanya terbatas pada pengolahan sampah.
“Selain mengelola sampah organik tanpa bahan kimia, fasilitas ini juga berfungsi sebagai resapan air saat musim hujan. Sampah diurai secara alami oleh cacing dan maggot,” jelasnya.

Hasil pengolahan tersebut menghasilkan kompos berkualitas tinggi yang dimanfaatkan kembali oleh warga untuk tanaman rumah tangga, serta oleh pihak desa untuk pemeliharaan taman lingkungan. Tak hanya itu, Desa Sumerta Kelod juga aktif mengembangkan program bank sampah berbasis partisipasi masyarakat.

Tantangan Perubahan Pola Pikir

Meski berbagai program telah berjalan, tantangan utama tetap pada perubahan perilaku masyarakat. Anom Suardana menegaskan bahwa mengubah kebiasaan lama bukanlah hal mudah.

“Masyarakat sudah terbiasa mencampur sampah karena langsung diangkut petugas. Mengubah kebiasaan agar memilah sampah dari rumah membutuhkan waktu dan edukasi yang berkelanjutan,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika pemilahan dilakukan sejak dari sumber, maka volume sampah residu akan berkurang secara signifikan.

Upaya ini juga sejalan dengan nilai kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia (Pawongan) dan lingkungan (Palemahan). Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni tersebut.

Kolaborasi Lintas Sektor

Komitmen Desa Sumerta Kelod juga terlihat dari sinergi dengan berbagai pihak. Saat terjadi penumpukan sampah pasca kegiatan masyarakat, pemerintah desa sigap berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran untuk melakukan pembersihan dan penyemprotan area terdampak.

Melihat konsistensi tersebut, I Putu Eka Mahardhika memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya yang dilakukan.

“Apa yang dilakukan Desa Sumerta Kelod adalah bukti nyata, bukan sekadar slogan. Ini lahir dari rasa cinta terhadap Bali. Edukasi berkelanjutan dan kolaborasi menjadi kunci menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” ujarnya.

Dengan berbagai inovasi dan pendekatan berbasis budaya, Desa Sumerta Kelod kini menjadi contoh konkret bahwa penanganan sampah dapat dimulai dari tingkat desa, dengan dampak besar bagi kelestarian Pulau Dewata. ( Kdk)

Reporter