Buleleng, infoglobalindonesia.com // – Umat Hindu di Bali maupun di berbagai daerah di Indonesia tengah bersiap menyambut Hari Raya Galungan yang jatuh pada Buda Kliwon Dungulan, Rabu, 17 Juni 2026. Hari Raya Galungan merupakan momentum suci yang dimaknai sebagai kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran).
Dalam rangka memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjalankan rangkaian upacara keagamaan dengan khusyuk, Pemerintah Provinsi Bali menetapkan libur fakultatif selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis.
Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Buleleng, Gede Made Metra, menjelaskan bahwa sesungguhnya rangkaian Hari Raya Galungan telah dimulai jauh sebelum hari puncak perayaan. Salah satunya ditandai dengan pelaksanaan Tumpek Wariga, sekitar 25 hari sebelum Galungan.
“Tumpek Wariga merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan syukur kepada tumbuh-tumbuhan agar tumbuh subur dan menghasilkan buah-buahan yang nantinya dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa pada saat Hari Raya Galungan,” ujar Metra.
Menurutnya, aktivitas umat Hindu semakin meningkat sejak Senin yang dikenal sebagai Hari Penyajaan. Pada hari tersebut masyarakat membuat berbagai jenis jaje banten atau kue upacara yang digunakan sebagai sarana persembahan.
Namun, Metra menegaskan bahwa makna Hari Penyajaan tidak sekadar membuat sarana upacara. Kata “sajaan” dalam bahasa Bali berarti sungguh-sungguh, sehingga hari tersebut mengandung pesan agar umat mempersiapkan diri dengan kesungguhan hati dalam menyambut kemenangan Dharma.
Selanjutnya pada Selasa, umat Hindu melaksanakan Penampahan Galungan, yaitu kegiatan pemotongan hewan seperti babi, ayam, maupun itik yang digunakan sebagai sarana upacara. Secara filosofis, Penampahan Galungan bukan hanya bermakna pemotongan hewan, melainkan simbol pengendalian dan penghapusan sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia, seperti kemarahan, keserakahan, egoisme, dan angkara murka.
“Makna sesungguhnya dari Penampahan Galungan adalah menaklukkan sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Dengan demikian, ketika memasuki Hari Raya Galungan, umat telah mampu memenangkan Dharma dalam dirinya sendiri,” jelasnya.
Puncak perayaan Galungan pada Rabu, 17 Juni 2026, ditandai dengan persembahyangan di sanggah, merajan, pura keluarga, maupun pura umum. Momentum ini menjadi simbol kemenangan manusia atas sifat-sifat buruk dan sekaligus pengingat untuk senantiasa menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Metra mengajak seluruh umat Hindu untuk memaknai Hari Raya Galungan tidak hanya sebagai pelaksanaan ritual dan upacara keagamaan semata, tetapi juga sebagai momentum introspeksi diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Galungan hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menegakkan Dharma dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun dalam hubungan antarumat manusia,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa perayaan Hari Raya Galungan saat ini tidak hanya berlangsung di Bali, tetapi juga dirayakan dengan penuh kekhusyukan oleh umat Hindu di berbagai daerah di Indonesia.
Dengan adanya libur fakultatif yang diberikan pemerintah daerah, diharapkan umat Hindu dapat melaksanakan seluruh rangkaian Hari Raya Galungan dengan lebih khusyuk dan penuh makna, sehingga nilai-nilai Dharma benar-benar dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(Toy)
Red: IGI COM





