Denpasar,infoglobalindonesia.com// 23 Oktober 2026 — Gemerlap pariwisata Bali ternyata belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan para pekerjanya. Di balik hotel berbintang, restoran mewah, dan derasnya arus wisatawan, masih banyak pekerja pariwisata yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang dinilai belum memadai.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Ketua DPW Partai Perindo Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya alias Jro Bima.

Ia menilai persoalan upah pekerja pariwisata Bali harus menjadi perhatian bersama, terutama karena sektor pariwisata merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Pulau Dewata.

“Kita jangan hanya melihat gemerlap hotelnya. Kita juga harus melihat kehidupan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Jangan sampai hotelnya bintang lima, tetapi kesejahteraan pekerjanya masih jauh dari layak,” tegas Jro Bima.

Menurutnya, rendahnya penghasilan pekerja pariwisata juga menjadi salah satu faktor yang mendorong banyak masyarakat Bali memilih bekerja ke luar negeri.

Ironisnya, mereka tetap bekerja di bidang yang sama—hospitality, hotel, restoran maupun jasa pariwisata—namun memperoleh penghasilan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ketika bekerja di Bali.

“Ini sebuah keprihatinan. Orang Bali punya kemampuan, pengalaman dan keterampilan di bidang pariwisata. Tetapi mereka justru memilih pergi ke luar negeri karena mendapatkan penghargaan dan penghasilan yang lebih layak. Padahal sektor yang mereka kerjakan sama,” ujarnya.

Jangan Hanya Mengejar Wisatawan, Perhatikan Pekerjanya

Jro Bima meminta para pengusaha hotel di Bali melakukan evaluasi terhadap sistem pengupahan tenaga kerja.

Menurutnya, keuntungan industri pariwisata semestinya tidak hanya dinikmati pemilik usaha, tetapi juga dirasakan oleh para pekerja yang setiap hari menjadi ujung tombak pelayanan kepada wisatawan.

“Pekerja adalah wajah pariwisata Bali. Mereka yang menyambut wisatawan, membersihkan kamar, memasak, melayani tamu dan memastikan wisatawan merasa nyaman. Kalau mereka tidak sejahtera, jangan berharap pariwisata kita bisa terus berkembang secara sehat,” katanya.

Ia berharap hotel berbintang empat dan lima di Bali dapat menjadi contoh dalam memberikan penghasilan yang lebih layak kepada pekerjanya.

Bagi Jro Bima, kesejahteraan pekerja bukan semata-mata beban perusahaan, melainkan investasi untuk menjaga kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan industri pariwisata Bali.

UMP Bali Harus Melihat Realitas Kehidupan

Jro Bima juga menyoroti pembahasan UMP Bali 2027 yang kini mulai menjadi perhatian publik.

Ia mengingatkan pemerintah agar penetapan upah minimum tidak hanya berpegang pada formula matematis, tetapi juga mempertimbangkan kenyataan biaya hidup masyarakat Bali.

“UMP Bali jangan hanya mengikuti rumus, tetapi harus mengikuti realitas kehidupan rakyat. Pemerintah harus melihat berapa sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan seorang pekerja untuk bisa hidup layak di Bali,” tegasnya.

Menurut Jro Bima, upah yang layak harus mampu memberikan ruang bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan keluarga.

“Kalau gaji hanya cukup untuk bertahan hidup sampai pertengahan bulan, lalu bagaimana pekerja bisa memikirkan masa depan keluarganya?” ujarnya.

Ia pun mendorong pemerintah, pengusaha dan pekerja duduk bersama mencari formula pengupahan yang lebih realistis dan berkeadilan.

Bali Jangan Hanya Jadi Surga Wisatawan

Jro Bima menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata Bali tidak boleh hanya diukur dari jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel maupun besarnya transaksi ekonomi.

Ukuran keberhasilan pariwisata, menurutnya, juga harus dilihat dari seberapa besar kesejahteraan yang dirasakan masyarakat Bali.

“Bali jangan hanya menjadi surga bagi wisatawan, tetapi harus menjadi tempat yang layak bagi masyarakat Bali untuk bekerja dan membangun masa depan. Jangan sampai orang Bali justru harus pergi jauh ke luar negeri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari sektor pariwisata yang sebenarnya menjadi kekuatan Bali sendiri,” pungkas Jro Bima.( Roy)

Red: IGI COM