Denpasar, infoglobalindonesia.com // Kasus pengeroyokan brutal yang dialami Wayan Sukanik, warga asal Karangasem, hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti. Padahal laporan resmi telah disampaikan ke Polresta Denpasar hampir sepekan lalu.

Lambannya penanganan kasus tersebut kini memunculkan pertanyaan besar dari korban terkait keseriusan aparat dalam memburu dan menangkap para pelaku yang hingga kini masih bebas berkeliaran.

Pada Selasa, 20 Mei 2026, Wayan Sukanik kembali mendatangi kediaman Ketua Yayasan Kesatria Kerris Bali sekaligus Ketua DPW Partai Perindo Bali, Ketut Putra Ismaya Jaya atau yang akrab disapa Jro Bima, untuk meminta kepastian perkembangan kasus sekaligus pendampingan hukum atas peristiwa pengeroyokan yang nyaris merenggut nyawanya itu.
“Saya datang kembali menemui Jro Bima untuk menanyakan perkembangan laporan kasus saya. Saya ingin para pelaku segera ditangkap supaya jelas siapa sebenarnya mereka. Saya juga meminta pendampingan hukum karena sampai sekarang saya masih trauma,” ujar Wayan Sukanik.

Korban mengaku hingga kini masih mengalami trauma berat akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh lima orang tak dikenal di kawasan Jalan Buluh Indah, Denpasar. Selain mengalami luka di bagian kepala dan wajah, korban juga merasa ketakutan saat harus kembali bekerja mencari nafkah.

Menanggapi hal tersebut, Ketut Putra Ismaya Jaya didampingi tim kuasa hukum Yayasan Kesatria Kerris Bali menegaskan agar pihak kepolisian, baik Polda Bali maupun Polresta Denpasar, segera bergerak cepat mengungkap kasus tersebut sebelum menimbulkan keresahan lebih luas di masyarakat.

Jro Bima menilai ada sejumlah kejanggalan dalam aksi pengeroyokan itu. Menurut penuturan korban, para pelaku bahkan membawa borgol dan sempat berusaha memborgol korban sambil meneriakkan kata “narkoba”. Tidak hanya itu, dompet korban juga sempat diambil dan diperiksa oleh para pelaku.
“Ini yang menjadi pertanyaan besar. Kenapa pelaku membawa borgol? Korban bahkan sempat diteriaki narkoba. Setelah melihat isi dompet korban dan korban berteriak meminta tolong agar dicarikan polisi, para pelaku justru kabur satu per satu. Ini sangat aneh,” tegas Jro Bima.

Bahkan, menurut Jro Bima, dirinya juga telah berupaya menghubungi pihak kepolisian melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp guna mempertanyakan perkembangan penanganan kasus tersebut. Namun hingga saat ini dirinya mengaku belum mendapatkan kejelasan karena panggilan telepon yang dilakukan tidak diangkat.
“Saya sudah mencoba menghubungi pihak kepolisian lewat telepon dan WhatsApp untuk mempertanyakan perkembangan kasus ini, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan karena telepon tidak diangkat. Masyarakat tentu berharap aparat serius dan cepat bertindak,” ujarnya.

Ia pun mempertanyakan apakah para pelaku memiliki keterkaitan dengan aparat atau hanya oknum yang sengaja melakukan aksi menyerupai penegakan hukum untuk menakut-nakuti korban.

Menurutnya, dugaan salah tangkap atau tindakan main hakim sendiri tidak boleh terjadi di Bali yang selama ini dikenal sebagai daerah aman dan kondusif.
“Kalau benar ada oknum yang bertindak seperti aparat dan membawa borgol, ini persoalan serius. Aparat harus segera mengungkap kasus ini secara terang benderang agar tidak menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Jangan sampai rakyat kecil merasa tidak aman mencari nafkah di Bali,” ujarnya dengan nada tegas.

Sementara itu, tim kuasa hukum Yayasan Kesatria Kerris Bali, melalui Nengah Sukarya, menyatakan pihaknya siap memberikan pendampingan hukum penuh kepada korban hingga para pelaku berhasil ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku.
“Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas. Korban berhak mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum,” tegas Nengah Sukarya.

Kasus ini pun kini menjadi sorotan karena dinilai dapat mencoreng citra keamanan Bali sebagai destinasi wisata internasional apabila tidak segera ditangani secara serius dan transparan oleh aparat penegak hukum.( Roy)

Red : IGI COM