BULELENG, infoglobalindonesia.com// – Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, para peternak babi di Bali justru menghadapi kondisi yang sangat miris dan memprihatinkan. Wabah African Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi menyebabkan ribuan ekor babi mati, termasuk ternak yang sebenarnya sudah siap dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang hari raya.

Ketua DPD Partai Perindo Buleleng, Made Suparjo, menyatakan bahwa persoalan ini harus menjadi perhatian serius pemerintah karena dampaknya sangat besar terhadap perekonomian masyarakat, khususnya peternak babi skala kecil dan peternak rumahan di Bali.
“Sudah mencapai ribuan ekor ternak babi di berbagai wilayah Bali, terutama di Kabupaten Buleleng, yang mati akibat serangan virus ASF. Namun hingga saat ini belum terlihat langkah penanggulangan dan pencegahan yang nyata dari pemerintah. Saya sangat prihatin melihat kondisi ini,” tegas Suparjo.

Menurutnya, sikap pemerintah yang terkesan diam membuat para peternak merasa tidak mendapatkan perhatian yang layak. Padahal, menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan seharusnya menjadi momentum bagi peternak untuk menikmati hasil usaha mereka setelah berbulan-bulan memelihara ternak.
“Semestinya menjelang hari raya para peternak bisa tersenyum karena hasil ternaknya siap dijual. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Mereka bersedih karena babi yang sudah siap panen malah mati akibat wabah ASF,” ujarnya.

Suparjo yang juga merupakan pengusaha peternakan dan pakan ternak menjelaskan bahwa kerugian yang dialami peternak sangat besar. Sebagai gambaran, seekor babi dengan bobot sekitar satu kuintal yang siap jual memiliki nilai sekitar Rp4 juta. Jika seorang peternak kehilangan 10 ekor babi akibat ASF, maka kerugian yang dialami dapat mencapai Rp40 juta.
Selain menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak, wabah ASF juga mulai berdampak pada ketersediaan babi di pasaran. Kelangkaan pasokan menyebabkan harga babi hidup maupun siap potong terus mengalami kenaikan. Saat ini harga babi siap potong disebut telah mencapai sekitar Rp42/45 ribu per kilogram hidup dan dikhawatirkan masih akan terus meningkat.
“Kondisi ini sangat merugikan peternak lokal, terutama peternak kecil dan peternak rumahan. Ironisnya, dampak kenaikan harga justru berpotensi lebih banyak menguntungkan pelaku usaha besar yang sebagian berasal dari luar Bali,” katanya.
Atas kondisi tersebut, Suparjo mendesak pemerintah pusat, pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten/kota untuk segera mengambil langkah konkret dalam menangani penyebaran ASF. Menurutnya, salah satu langkah yang harus segera dilakukan adalah sosialisasi dan edukasi secara masif kepada masyarakat dan peternak mengenai bahaya serta pencegahan penyakit ASF.
“Kami mendesak pemerintah untuk segera bertindak. Minimal lakukan sosialisasi secara luas agar masyarakat dan peternak memahami bagaimana mencegah penyebaran ASF. Jangan sampai para peternak dibiarkan menghadapi persoalan ini sendirian seolah-olah tidak ada kepedulian terhadap nasib mereka,” pungkasnya.

Wabah ASF yang terus menyerang ternak babi di Bali saat ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan ekonomi peternak rakyat sekaligus berpotensi mengganggu stabilitas pasokan dan harga daging babi menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Karena itu diperlukan langkah cepat, terukur, dan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan agar kerugian yang dialami peternak tidak semakin meluas.(Roy)

Red : IGI COM