Buleleng,infoglobalindonesia.com//– Peringatan Hari Kartini yang setiap tahun dirayakan di berbagai daerah di Indonesia dinilai masih didominasi kegiatan seremonial bernuansa feodal. Berbagai lomba seperti peragaan busana, merangkai bunga, memasak hingga baca puisi masih menjadi agenda utama dalam peringatan tersebut.

Pengamat Sosial budaya, Prof.DR.Made Pageh,M.Hum menilai bahwa esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini jauh melampaui aktivitas domestik yang selama ini dipertontonkan dalam peringatan Hari Kartini.
“Perjuangan Kartini bukan sekadar kegiatan domestik, tetapi bersifat publik. Jika kita melihat isi surat-surat Kartini pada masa kolonialisme, jelas terlihat bahwa beliau memperjuangkan kesetaraan gender dan hak emansipasi perempuan,” ungkapnya.

Menurut Prof. Pageh, jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, perjuangan Kartini sejatinya telah banyak membuahkan hasil. Hak-hak perempuan di berbagai sektor kini semakin terbuka dan tidak lagi dibatasi.
“Di semua sektor, baik bisnis maupun profesi lainnya, perempuan dan laki-laki sudah diberikan kesempatan yang sama untuk bersaing. Hampir semua pekerjaan yang dulu identik dengan laki-laki kini bisa dilakukan oleh perempuan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kodrat perempuan tetap tidak dapat tergantikan, seperti mengandung dan melahirkan, yang menjadi bagian dari peran biologis perempuan.

Lebih lanjut, Prof. Pageh menyoroti pentingnya memaknai peringatan Hari Kartini di era digital saat ini secara lebih substansial. Ia mengingatkan agar momentum tersebut tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diisi dengan aktivitas yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Peringatan Kartini seharusnya menjadi ruang untuk diskusi ilmiah, dialog publik, dan forum strategis yang melibatkan perempuan. Jangan sampai teknologi justru memperbudak kita dan menggerus nilai-nilai sosial dalam kehidupan,” tegasnya.

Ia berharap ke depan peringatan Hari Kartini dapat menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.
“Harapannya, generasi muda khususnya perempuan mampu mewarisi semangat perjuangan Kartini dengan cara yang lebih kontekstual, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” pungkasnya.( Roy)

Editor : IGI COM

Reporter :Roy Astika