BANGLI, infoglobalindonesia.com// — Mengembalikan struktur dan kesuburan tanah Ibu Pertiwi menjadi perhatian serius di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks. Penggunaan pupuk organik dengan teknologi nano dinilai menjadi salah satu alternatif untuk mendorong pertanian yang lebih sehat, efisien, sekaligus ramah lingkungan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi pemanfaatan pupuk organik teknologi nano yang berlangsung di tempat Koperasi Merah Putih, Kintamani, Songan Buahan, Kabupaten Bangli, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan yang digagas oleh Dandrem 163/Wirasatya, Ida I Dewa Agung Hadisaputra, mendapat antusiasme masyarakat. Sejumlah kepala desa, tokoh adat, pelaku usaha tani dan peternakan serta masyarakat hadir mengikuti edukasi yang berlangsung hampir tiga jam tersebut.

Salah satu pembicara dari Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB), Ajun Ananda menegaskan bahwa persoalan pertanian tidak semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana mengembalikan kesehatan tanah yang menjadi fondasi kehidupan.

«“Kita perlu mengembalikan kesuburan tanah Ibu Pertiwi. Petani harus mengetahui bagaimana memanfaatkan pupuk organik dengan teknologi nano agar struktur tanah dapat diperbaiki, hasil pertanian dan perkebunan meningkat, sementara biaya produksi dapat ditekan,” ujar Arjun.»

Menurutnya, pemanfaatan teknologi nano dalam pupuk organik perlu dilihat sebagai bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan pentingnya kembali pada prinsip back to nature. Pertanian dan peternakan harus dikelola dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Jangan sampai kita mengejar hasil panen, tetapi kehilangan tanah yang sehat. Alam harus dijaga karena dari sanalah kehidupan dan masa depan pertanian kita bergantung,” tegasnya.

Arjun menilai konsep pertanian dan peternakan organik juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan, termasuk Danau Batur. Pengelolaan sampah organik secara tepat, menurutnya, dapat menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem pertanian sekaligus menjaga lingkungan di kawasan tersebut.

Lintas Lembaga, Satu Kepedulian

Sosialisasi tersebut juga melibatkan berbagai unsur dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap pertanian, lingkungan, kehutanan, dan pengelolaan sumber daya alam.

Dari PUSDAL LH Bali Nusra hadir Fatirahma Mustafa dan Angga Putra N. Sementara dari BKSDA Bali hadir D. Wijayanto dan Made Budi Adnyana Putra.

Dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana, hadir Restiaba Maulinda dan I Gede Irfan S.

Sementara dari Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB) hadir Arjun Ananda, Ratu Tridati, S.Sos., dan I Gede Marutha Jayantara, S.P.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesuburan tanah dan keberlanjutan pertanian tidak bisa diselesaikan secara sektoral. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, pelaku pertanian, lembaga lingkungan, serta komunitas.

Jangan Hanya Mengejar Panen, Selamatkan Tanah

Antusiasme peserta semakin terlihat setelah mendapatkan edukasi mengenai pentingnya memperbaiki struktur tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap pola pertanian yang berpotensi merusak keseimbangan lingkungan.

Bagi Arjun, tanah bukan sekadar media tanam, melainkan aset kehidupan yang harus diwariskan dalam kondisi lebih baik kepada generasi berikutnya.

Karena itu, penggunaan pupuk organik dengan teknologi nano diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan secara nyata oleh petani dan pelaku usaha pertanian.

“Kalau tanah sehat, tanaman sehat. Kalau tanaman sehat, hasil pertanian akan lebih baik. Dan pada akhirnya petani juga yang mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat maupun petani yang ingin memperoleh informasi dan produk pupuk organik teknologi nano dapat menghubungi YKKB atau DPW Partai Perindo Provinsi Bali.

Gerakan tersebut diharapkan menjadi bagian dari perubahan cara pandang terhadap pertanian Bali: bukan hanya bagaimana menghasilkan panen sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana menghasilkan pangan dengan tetap menjaga tanah, air, dan alam Bali.

Mengembalikan kesuburan tanah Ibu Pertiwi bukan sekadar pilihan teknologi. Ini adalah investasi untuk masa depan pertanian dan kehidupan. ( Roy)

Red: IGI COM