
DENPASAR ,infoglobalindonesia.com //– Laskar Merah Putih (LMP) Markas Daerah Bali mulai merapatkan barisan. Konsolidasi organisasi digelar untuk memperkuat soliditas internal sekaligus menata kembali arah gerak organisasi menghadapi agenda dan tantangan ke depan.
Rapat konsolidasi berlangsung di Sekretariat LMP Mada Bali, Jalan Sedap Malam Nomor 26, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Pertemuan tersebut dipimpin langsung OKK LMP, Anak Agung Gede Suryawan atau yang akrab disapa Gung Tato.
Kegiatan diawali dengan doa bersama dan pekikan yel-yel Laskar Merah Putih sebagai simbol semangat kebersamaan dan kesiapan seluruh jajaran untuk kembali memperkuat organisasi.
Ketua Mada LMP Bali, I Kadek Subagiana, dalam sambutannya menegaskan bahwa konsolidasi menjadi momentum penting untuk membahas berbagai persoalan organisasi sekaligus menyatukan langkah seluruh jajaran.
Menurutnya, LMP Bali harus mampu menjalankan organisasi secara tertib, profesional dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebagai organisasi kemasyarakatan yang selama ini membangun sinergi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum dan berbagai elemen masyarakat, LMP Bali berkomitmen mengambil peran dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), sekaligus ikut merawat seni, budaya dan adat istiadat Bali.
Pembina Tekankan Organisasi Harus Punya Arah
Dewan Pembina LMP Bali, Jro Gede Widiarta, S.T. atau Jro Widhi, memberikan penekanan agar seluruh dinamika organisasi tetap berjalan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Ia mengingatkan bahwa keberadaan organisasi tidak boleh sekadar menjadi wadah berkumpul, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat.
“Berorganisasilah yang memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jangan sampai berorganisasi tanpa arah yang jelas,” tegas Jro Widhi.
Selain arah organisasi, Jro Widhi juga menyoroti pentingnya penataan administrasi keanggotaan. Menurutnya, harus ada kejelasan antara anggota aktif dan anggota pasif sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun kesan pilih kasih dalam menjalankan roda organisasi.
Hal lain yang menjadi perhatian serius adalah pengelolaan keuangan. Jro Widhi menegaskan, transparansi harus menjadi prinsip utama dalam setiap penggunaan dana organisasi.
“Keuangan merupakan salah satu sektor yang sensitif dalam organisasi. Karena itu, sekecil apa pun dana yang dikelola harus jelas penggunaan dan pertanggungjawabannya,” demikian arahan yang disampaikan dalam rapat.
Pandangan tersebut mendapat dukungan dari tiga penasihat LMP Bali yang hadir, yakni Jro Guntur, I Made Darpa dan I Nyoman Muditha. Ketiganya turut memberikan masukan sekaligus menegaskan pentingnya menjaga soliditas, tertib organisasi dan kebersamaan.
Nyoman Arjawa Dipercaya Jadi Ketua Harian
Salah satu keputusan penting dalam rapat konsolidasi tersebut adalah penunjukan Nyoman Arjawa sebagai Ketua Harian LMP Mada Bali yang baru.
Penunjukan dilakukan secara aklamasi untuk mengisi posisi Ketua Harian sebelumnya yang telah mengundurkan diri. Kehadiran figur baru di posisi tersebut diharapkan mampu menjaga kesinambungan roda organisasi sekaligus mempercepat konsolidasi internal.
Dengan mandat tersebut, Nyoman Arjawa diharapkan mampu membangun komunikasi dan kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai organisasi kemasyarakatan maupun elemen masyarakat lainnya.
Kepengurusan LMP Bali juga diharapkan semakin aktif mengambil bagian dalam upaya memperkuat seni, budaya dan adat istiadat Bali, sekaligus membangun sinergi dengan berbagai program pembangunan Pemerintah Provinsi Bali.
Salah satunya adalah mendukung semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya demi kesejahteraan masyarakat Bali secara sekala dan niskala.
Target Akhir 2026, Struktur Kabupaten/Kota Dirampungkan
Konsolidasi tidak berhenti pada penunjukan Ketua Harian baru. LMP Mada Bali dalam waktu dekat akan kembali menggelar rapat untuk merampungkan struktur kepengurusan di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Targetnya jelas, seluruh struktur organisasi di tingkat kabupaten/kota dapat dirampungkan sebelum akhir 2026.
Selain struktur organisasi, rapat berikutnya juga akan membahas penyusunan program kerja, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
LMP Bali juga membuka ruang bagi masyarakat dari berbagai kalangan untuk bergabung, termasuk melalui keanggotaan pasif. Perluasan basis keanggotaan tersebut diharapkan semakin memperkuat kapasitas organisasi untuk hadir dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi LMP Bali, konsolidasi bukan sekadar pergantian posisi dalam struktur organisasi. Lebih dari itu, konsolidasi menjadi momentum untuk membangun kembali kekuatan, memperjelas arah perjuangan dan memastikan organisasi benar-benar hadir dengan manfaat.
Rapatkan barisan, benahi organisasi, perkuat pengabdian. LMP Bali menatap 2027 dengan struktur yang lebih solid dan gerak yang semakin nyata untuk masyarakat.( Jw/Roy)
Red: IGI COM






